Penglaris yang Berbeda dari yang Lain
Assalamu'alaikum wr. wb. Allah berfirman, "Dan betapa banyak binatang yang tidak mencari rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberikan rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jika kamu bertanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan menundukkan matahari dan bulan? Mereka pasti akan menjawab: Allah. Namun, mengapa mereka tetap berpaling dari jalan yang benar?
Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambaNya, dan Dia juga yang menyempitkannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada bencana yang menimpa bumi dan pada dirimu, kecuali telah tertulis dalam kitab-Nya sebelum diciptakan. Sungguh, hal itu mudah bagi Allah, agar kamu tidak berduka cita terhadap yang hilang darimu, dan agar kamu tidak terlalu bersuka cita terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Allah tidak menyukai orang yang sombong dan menyombongkan diri, yang kikir dan menyuruh orang lain pula menjadi kikir. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Kaya dan Maha Terpuji. Janganlah menyembah selain Allah yang tidak memberi manfaat atau mudharat padamu, karena jika kamu melakukannya, maka kamu termasuk orang yang zalim. Jika Allah menimpakan kemudaratan padamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambaNya, karena Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang."
Benar sekali segala firman Allah, tidak ada Tuhan yang layak disembah selain Allah yang Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu. Segala puji dan syukur hanya bagi Allah atas segala anugerah-Nya yang melimpah kepada makhluk-Nya di bumi. Nikmat yang diberikan Allah begitu banyak, tak terhitung jumlahnya.
Jika kita mencoba menghitung nikmat Allah, pasti kita tidak akan sanggup menghitungnya. Allah benar-benar Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Allah mengetahui segala yang kita sembunyikan dan yang kita lahirkan. Melalui karunia-Nya pula, kita masih bisa berkumpul di masjid pada pagi Jumat, tanggal 12 Sya'ban 1426 H atau 16 September 2026, membahas tentang syirik dengan tema "penglaris" yang sering dilakukan orang dalam berdagang, tetapi jalan tersebut tidak diridhai bahkan dilaknat oleh Allah.
Beberapa contoh kejadian nyata akan dibahas sebagai peringatan agar kita tidak terlibat dalam perbuatan tersebut. Sebelum memulai, mari kita panjatkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang terus menyebarkan Islam hingga akhir zaman.
Pada tahun 1970-an, seorang wartawan melaporkan kegiatan ritual di Gunung Kemukus, Boyolali, Jawa Tengah. Dari Surakarta ke utara, terdapat jalan ke arah Purwodadi yang menuju Gunung Kemukus. Di kaki bukit tersebut, sudah banyak orang berkumpul untuk berziarah atau berjualan. Malam itu, suasana sudah ramai dengan pengunjung dari berbagai tempat, termasuk anak-anak yang menyewakan tikar kepada pengunjung. Mereka semua berkumpul untuk melaksanakan ritual tersebut.
Dengan naik ke atas tangga, semakin tinggi semakin ramai dan akhirnya sampai di sebuah komplek kuburan yang cukup terang. Konon, di tempat tersebut terkubur seorang pangeran dari keraton Surakarta (Pangeran Samodra) dan kekasihnya dalam satu lubang. Para pengunjung yang berziarah ke tempat itu dipercaya bahwa untuk hajatnya terkabul, mereka disarankan untuk melakukan hubungan intim dengan orang lain di sekitar kuburan.
Di pintu masuk komplek kuburan, seorang wanita berusia sekitar 35 tahun, seorang pedagang dari Pasar Bulu Semarang, yang baru saja keluar dari kuburan, ditemui oleh seorang wartawan. Wanita tersebut mengaku bahwa setelah mengunjungi tempat itu, jualannya semakin laris dan ia kembali untuk menyampaikan rasa syukurnya. Wanita itu kemudian mencoba mengajak wartawan untuk berhubungan intim, namun wartawan tersebut menolak dengan sopan karena tujuannya adalah untuk menyelidiki cerita ritual Gunung Kemukus.
Meskipun demikian, wartawan itu diam-diam mengikuti wanita tersebut dan melihatnya bertemu dengan seorang lelaki lain. Mereka berdua kemudian melampiaskan nafsu mereka di sekitar kuburan yang gelap di bawah pepohonan, menggunakan tikar yang disewa dari seorang anak. Ternyata, tidak hanya satu pasangan yang melakukan hal tersebut, tetapi cukup banyak pasangan lainnya, menciptakan suasana sebagai pesta maksiat.
Ritual Gunung Kemukus masih berlangsung hingga saat ini, dijaga oleh pemerintah setempat sebagai objek wisata. Namun sayangnya, banyak wanita PSK yang memanfaatkannya untuk menjajakan diri. Astaghfirullah. Wanita yang ditemui oleh wartawan tersebut dilaporkan telah melakukan ritual tersebut sampai tiga kali malam itu, dengan berganti-ganti pasangan. Sungguh hal yang mengkhawatirkan.
Ada cerita menarik tentang seorang pedagang bakso yang mencoba untuk meningkatkan penjualannya dengan cara yang tidak lazim. Ia mendapatkan jimat penglaris dari seorang "orang pinter" yang aneh. Setelah membuka jimat tersebut, ia terkejut karena isinya adalah celana dalam bekas. Namun, demi keuntungan, ia tetap mengikuti semua instruksi yang diberikan. Hasilnya memang luar biasa, pembeli berdatangan dan bisnisnya sukses.
Namun, keberhasilannya berakhir ketika salah satu pembeli melihat jimat celana dalam tersebut. Berita tentang jimatnya tersebar dan omsetnya turun drastis hingga akhirnya ia bangkrut. Di tempat lain, seorang ikhwan menemukan jimat di toko tempat ia memphoto copy. Jimat tersebut berasal dari Gunung Kawi dan membuatnya merasa tertarik.
Seorang pengusaha kayu di Yogyakarta juga berusaha meningkatkan omset dengan menggunakan jimat, namun usahanya malah semakin merosot. Setelah mengalami banyak masalah, ia akhirnya bertemu dengan seorang ustadz yang menasihatinya untuk bertaubat dan meninggalkan segala jimat. Dan akhirnya, usahanya mulai kembali sukses.
Seorang akhwat pedagang kain di pasar Tanah Abang juga mengalami hal serupa ketika penjualannya sepi. Dengan mengikuti petunjuk untuk banyak berwirid, ia akhirnya berhasil meningkatkan penjualan kainnya. Tuhan selalu membuka jalan bagi yang taat dan berserah kepada-Nya.
Setelah pulang dari berdagang, ia memaksakan diri untuk mengamalkan wirid tersebut. Namun setelah sebulan melaksanakannya, ternyata tidak merasakan dagangannya tambah laris, bahkan yang terjadi sebaliknya, ia sering kesiangan bangun tidur dan telat melaksanakan shalat subuh karena kecapaian wirid malamnya. Sehingga, ia menjadi agak loyo dan kurang bersemangat lagi untuk berdagang, dan omset tokonya makin turun. Bersyukur ia tidak terjerumus dalam kemusyrikan.
Setiap pedagang pasti ingin beruntung, dan tak ada seorang pun yang ingin rugi. Bahkan kalau bisa keuntungannya berlipat. Hal itu sah-sah saja. Banyak cara yang dilakukan para pedagang untuk mendapat keuntungan. Bahkan jika dengan cara bersih tidak berhasil, kadang dilakukan dengan cara kotor. Jika dengan cara halal sulit, tak segan dilakukan dengan cara haram. Dengan cara yang wajar tidak menuai hasil, mereka lakukan dengan cara tidak wajar atau tidak sehat bahkan dengan jalan sesat.
Semua yang mereka lakukan itu demi meraih keuntungan atau dagangannya laris. Sehingga tidak sedikit yang menggunakan penglaris, namun dengan cara salah bahkan sesat seperti beberapa kisah di atas. Padahal masalah rizki, merupakan sesuatu yang masih misteri bagi semua makhluk Allah, karena rizki yang merupakan anugrah Allah kepada makhlukNya, adalah sesuatu yang dirahasiakan oleh Allah, dan setiap makhluk sudah ditentukan rizkinya masing-masing sesuai kehendakNya, sebagaimana firman Allah QS Al Ankabuut 60-62 yang terjemahannya di awal mukadimah mimbar ini.
Bahkan takdir baik dan buruk juga adalah ketentuan Allah, sehingga jangan terlalu senang atau sombong bila mendapat kebaikan atau kesenangan, dan sebaliknya tidak berduka yang berlebihan atau bahkan berpaling dari jalan Allah di saat mendapat musibah atau keburukan, seperti yang diingatkan Allah dalam QS Al Hadiid 22-24 yang juga terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar ini. Rasulullah juga menyampaikan sabdanya berkaitan dengan ketentuan tersebut: "Sesungguhnya setiap kalian diciptakan dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi alaqah selama itu pula, kemudian menjadi mudghah selama itu pula. Kemudian diutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya, lalu diperintahkan untuk menuliskan empat perkara: rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya..." (HR Bukhari dan Muslim).
Ketentuan ini berlaku untuk semua manusia. Oleh karena itu, manusia dalam menjemput rizki ini, Allah memerintahkan untuk tawakal, seperti pada firmanNya: "Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, pasti Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah menetapkan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu" (QS Ath Thalaq 3).
Tawakal artinya berusaha mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan dalam urusan dunia maupun akhirat dengan tetap bersandar kepada Allah. Dengan demikian, bila seorang pedagang yang berusaha agar jualannya laris tetapi menempuh cara keliru dan sesat, adalah merupakan penyimpangan dan mencederai tawakalnya, karena ia telah bersandar kepada selain Allah dan mengikuti atau melakukan perbuatan yang dilarangNya.
Agar usaha kita lancar, dagangan kita laris, bisnis kita maju, maka sebagai umat Nabi Muhammad saw, kita bisa mencotoh beliau. Sebelum diangkat menjadi Rasulullah, beliau adalah seorang pedagang yang piawai, sehingga banyak mendapat keuntungan dalam bisnisnya. Kunci keberhasilannya adalah disamping tawakal, jujur, dan pandai menawarkan atau mempromosikan barang dagangannya, juga berusaha meningkatkan kualitas barang dan memberikan pelayanan yang baik terhadap konsumen.
Tentu saja barang atau jasa yang dijual juga yang halal dan baik, bukan barang haram dan tidak dengan cara yang haram. Ketika mendapat keuntungan, selalu mensyukurinya dengan cara mengeluarkan hak orang lain dan mengalokasikan atau mendistribusikan untuk ketaatan, bukan untuk kemaksiatan. Dengan demikian usaha yang kita lakukan tersebut akan menjadi ibadah kepada Allah.
Jika kita sudah yakin bahwa rezeki setiap orang telah ditentukan oleh Allah, mengapa mencari jalan lain yang tidak diridhai-Nya? Berusaha dengan sungguh-sungguh sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya adalah langkah yang seharusnya diambil. Saat bersaing dengan pesaing usaha yang sama, hendaknya kita bersaing secara sehat.
Terkadang, ada cerita seseorang yang membuka toko kelontong di rumahnya dan mendapat pelanggan yang cukup banyak karena belum ada toko serupa di komplek tersebut. Namun, kemudian tetangganya juga membuka toko kelontong, sehingga merasa terancam dan omset penjualannya menurun. Dengan saran dari teman, ia pergi ke dukun untuk meminta penglaris usahanya dan bahkan berupaya menjatuhkan usaha tetangganya.
Namun, upaya tersebut tidak berlangsung lama karena keadaan berbalik, toko tetangganya malah semakin ramai. Hal ini mengingatkannya bahwa rezeki sudah ditentukan oleh Allah dan tidak bisa dipaksa. Kesalahan itu juga membuatnya terjerumus dalam kemusyrikan yang dosanya tidak terampuni. Allah telah memperingatkan tentang hal itu dan telah menentukan rezeki masing-masing hamba-Nya.
Sebaiknya, kita meminta kepada Allah yang maha kaya dalam segala urusan, termasuk bisnis atau berniaga. Kita berharap agar selalu bersandar kepada-Nya dalam berikhtiar. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu berserah diri kepada Allah. Semoga Allah melapangkan rezeki kita sesuai dengan kehendak-Nya. Semoga kita senantiasa mendapatkan keberkahan dalam segala usaha kita. Semoga kita terhindar dari kemusyrikan dan selalu mengikuti petunjuk-Nya. Terima kasih atas perhatiannya. Wassalamu'alaikum wr.wb.




0 comments