SELAMAT DATANG DI PEKANBARU LEGION

Mengendalikan perasaan adalah kunci untuk menjaga keseimbangan emosi


Ketidakmampuan dalam mengelola emosi dapat membuat seseorang merasa terpuruk, namun jika emosi dapat dikelola dengan baik, kesuksesan pasti akan diraih dan kualitas hidup akan meningkat. Emosi merupakan kekuatan tersembunyi yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan setiap individu. Emosi termasuk salah satu fungsi dari pikiran bawah sadar yang memiliki kekuatan sembilan kali lipat. Emosi dapat memengaruhi pikiran, begitu pula sebaliknya. Pikiran dan emosi membentuk sikap, yang kemudian berpotensi menjadi tindakan yang akan berdampak pada hasil-hasil yang diperoleh.

Jika saat ini Anda merasa tidak puas dengan hasil yang dicapai dalam hidup, perbaikilah cara Anda dalam mengelola emosi. Banyak orang mengalami kegagalan dalam berbagai aspek kehidupan karena tidak mampu mengendalikan emosi dengan baik. Emosi yang tidak mendukung dapat menjadi penyebab kegagalan dalam bisnis, karir, pendidikan, hubungan keluarga, maupun pergaulan dengan orang lain.

Secara etimologis, kata 'emosi' berasal dari bahasa Arab, al-ghadlab. Dalam Alquran, kata al-ghadlab sering kali dikaitkan dengan Allah sebagai Sang Khalik. Hanya sedikit ayat yang menghubungkan al-ghadlab dengan manusia, seperti yang terjadi pada Nabi Musa AS. "Dan, ketika Musa kembali kepada kaumnya dengan penuh kemarahan dan kesedihan, ia berkata, 'Alangkah buruknya perbuatan yang kalian lakukan setelah kepergianku.'" (QS al-A'raf [7]: 150).

Dalam ayat tersebut, disebutkan bahwa Nabi Musa pernah menarik rambut saudaranya sendiri, Nabi Harun, karena sangat marah dan emosional. Sikap marah Nabi Musa juga tercatat dalam surah Taha [20]: 86 dan tentang pengendalian emosi tersebut juga disebutkan dalam surah al-A'raf [7]: 154. Teladan utama dalam hal kecerdasan emosi adalah Rasulullah saw. Banyak literatur yang membahasnya, namun Al Quran dan Hadits adalah sumber utama kita.

Jika kita meneladani bagaimana Rasulullah saw berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarganya dan bahkan dengan mereka yang menentangnya, kita dapat melihat betapa luar biasanya kecerdasan emosinya. Praktik utama kecerdasan emosi adalah mengikuti jejak Rasulullah saw. Dalam sebuah hadis, diceritakan bahwa seorang sahabat datang tergesa-gesa untuk meminta nasihat kepada Nabi SAW. Beliau menjawab, "La taghdlab", hindari kemarahan. Nasihat tersebut diulang tiga kali, menunjukkan betapa pentingnya mengendalikan emosi.

Bagaimana cara menguasai kemarahan atau mengelola emosi? Rasulullah saw memberikan petunjuk yang bijaksana. Beliau menyatakan bahwa jika marah saat berdiri, duduklah. Jika masih marah saat duduk, berbaringlah. Dan jika masih marah saat berbaring, segera bangkit, ambil air wudu, dan lakukan shalat sunah dua rakaat.

Nasihat Rasulullah saw di atas sangat bijaksana. Ketika seseorang marah, ia mengalami ketegangan syaraf dan melawan kekuatan hawa nafsu yang kuat. Dalam pandangan agama, hawa nafsu tersebut diasosiasikan dengan kekuatan setan. Perubahan gerakan fisik dari berdiri ke duduk, dan dari duduk ke berbaring bertujuan untuk meredakan ketegangan syaraf. Jika itu tidak cukup, berwudu dan shalat dapat membantu seseorang melindungi diri dari kekuatan setan yang tersembunyi dalam kemarahan dan emosi.

Kemampuan kita dalam mengendalikan emosi sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian yang unggul, termasuk dalam berpikir. Dengan dapat mengatur emosi dengan baik, kita akan mampu berpikir secara matang, tenang, dan tentunya menghasilkan pemikiran yang bernilai positif. Hal ini menggarisbawahi bahwa keadaan emosi kita sangat memengaruhi akal budi manusia.


 

Tags:

Share:

0 comments