Tanda putih yang muncul di telapak tangan Uwais
Uwais al-Qarni adalah seorang pemuda yang memeluk agama Islam pada masa kehidupan Nabi Muhammad SAW. Beliau berasal dari daerah Qaran di Yaman. Meskipun memeluk Islam semasa hidup Nabi, namun beliau tidak pernah bertemu langsung dengan Baginda SAW.
Menurut Imam Ahmad dalam kitab az-Zuhd, Uwais adalah seorang anak yatim piatu yang hanya tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan lumpuh. Beliau bekerja sebagai pengembala kambing dengan upah yang sangat sedikit, hanya cukup untuk keperluan sehari-hari bersama ibunya. Uwais juga senantiasa membantu tetangganya yang hidup dalam kekurangan.
Meskipun kesibukan sebagai seorang pengembala dan merawat ibunya yang lumpuh, Uwais tetap teguh dalam ibadahnya. Beliau berpuasa di siang hari dan beribadah pada malam hari.
Uwais memeluk agama Islam setelah mendengarkan seruan dakwah yang sampai ke Yaman. Ajaran Nabi Muhammad SAW begitu menarik bagi Uwais sehingga beliau memutuskan untuk mengikut ajaran tersebut. Banyak anggota keluarganya yang juga memeluk Islam dan berhijrah ke Madinah untuk bersumpah setia kepada Nabi Muhammad SAW secara langsung.
Uwais merasa sangat sedih setiap kali melihat orang-orang pulang dari Madinah setelah bertemu dengan Nabi SAW, sedangkan dia belum pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Cintanya kepada Rasulullah menimbulkan rasa rindu yang begitu besar untuk bertemu dengannya, tetapi sayangnya, ia tidak mampu menyediakan cukup bekal untuk pergi ke Madinah. Selain itu, ia juga memiliki tanggung jawab untuk merawat ibunya yang sangat membutuhkan perhatian.
Ketika perang Uhud terjadi dan Nabi SAW terluka serta giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, Uwais mendengar kabar tersebut dan dengan penuh kecintaan, ia memutuskan untuk memukul giginya dengan batu hingga patah sebagai tanda rasa cintanya kepada Baginda SAW.
Waktu terus berlalu dan kerinduan yang tidak terbendung membuatnya semakin ingin bertemu dengan Nabi SAW. Meskipun begitu, ia tetap setia menjaga ibunya yang membutuhkan perhatian sepanjang waktu. Namun, suatu hari, Uwais akhirnya memutuskan untuk meminta izin kepada ibunya untuk pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah.
Meskipun ibunya dalam kondisi yang uzur, namun dengan haru beliau memberikan restu kepada anaknya untuk pergi. Ibunya berkata, "Pergilah, anakku! Temui Nabi di rumahnya dan segera pulang setelah bertemu dengannya." Dengan perasaan campur aduk, Uwais bersiap-siap untuk pergi dengan tidak lupa menyiapkan segala kebutuhan ibunya dan meminta bantuan tetangganya untuk merawat ibunya selama ia pergi.
Setelah menyiapkan segalanya, Uwais berangkat menuju Madinah dari Yaman meskipun harus melewati berbagai rintangan dan cuaca ekstrem. Semua dilaluinya dengan semangat dan keinginan yang kuat untuk bertemu dan melihat wajah Nabi SAW.
Ketika tiba di Madinah, Uwais langsung menuju rumah Nabi SAW dan bertemu dengan Sayidatina Aisyah. Namun, sayangnya Nabi SAW tidak ada di rumah karena sedang berada di medan perang. Uwais merasa sangat sedih dan bimbang, namun ia memutuskan untuk mematuhi pesan ibunya yang sudah tua untuk segera pulang ke Yaman.
Setelah kembali dari pertempuran, Nabi SAW bertanya tentang kunjungan seseorang yang mencarinya. Setelah mendengar cerita dari Aisyah, Nabi SAW memuji kepatuhan Uwais kepada ibunya dan menyatakan bahwa ia sangat terkenal di langit.
Mendengar ucapan Baginda, Aisyah r.ha. dan para sahabat terkejut. Menurut informasi dari Aisyah r.ha., benar bahwa Uwais telah mencari Nabi SAW dan kemudian kembali ke Yaman untuk merawat ibunya yang sakit.
Rasulullah SAW mengatakan bahwa tanda khas Uwais al-Qarni adalah adanya tanda putih di tengah telapak tangannya.
Kemudian, Baginda menatap Sayidina Ali r.a. dan Sayidina Umar r.a., dan berkata bahwa ketika bertemu dengan Uwais, mintalah doa dan istighfar darinya karena doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT. Setelah wafatnya Nabi SAW, Khalifah Umar al-Khattab teringat akan Uwais al-Qarni dan meminta Sayidina Ali untuk mencarinya bersama-sama.
Sejak itu, setiap rombongan yang datang dari Yaman diperiksa oleh keduanya apakah Uwais ikut bersama mereka. Beberapa rombongan merasa heran mengapa Uwais dicari oleh keduanya. Rombongan dari Yaman menuju Syam terus berganti, membawa barang dagangan mereka.
Pada suatu waktu, Uwais al-Qarni ikut serta dalam rombongan kafilah menuju kota Madinah. Ketika Amirul Mukminin Sayidina Umar dan Sayidina Ali mendengar kabar kedatangan rombongan dari Yaman, mereka segera mencari Uwais untuk menanyakan tentangnya. Setelah mengetahui keberadaan Uwais dalam rombongan tersebut, mereka langsung menuju ke tempat yang disebutkan. Ketika tiba di tenda tempat Uwais berada, Uwais sedang dalam keadaan sedang bersujud.
Setelah selesai salatnya, Uwais menyambut kedua tamu mulia itu dengan hangat. Ketika Khalifah Umar meraih tangan Uwais, dia dengan bijaksana memeriksa tapak tangan Uwais untuk memastikan kebenaran tanda putih yang diberitahukan Nabi SAW. Dan benar saja, tanda itu ada di tapak tangan Uwais.
Kedua sahabat itu kemudian bertanya, "Siapakah nama saudara dari Yaman ini?" Uwais dengan rendah hati menjawab, "Saya hamba Allah." Mendengar jawaban itu, Umar dan Ali tertawa lalu bertanya lagi, "Siapakah nama sebenarnya?"
Uwais akhirnya mengungkapkan bahwa namanya adalah Uwais al-Qarni dan bahwa ibunya telah meninggal dunia, itulah sebabnya dia dapat ikut dalam rombongan kafilah dagang. Umar dan Ali kemudian meminta Uwais mendoakan mereka, namun Uwais menolak dengan sopan. Namun akhirnya, atas desakan keduanya, Uwais pun mengangkat tangan dan mendoakan serta memohon ampunan untuk mereka.
Setelah itu, Umar berjanji untuk memberikan bantuan finansial melalui baitulmal kepada Uwais, namun Uwais menolak dengan tulus. Sebagai gantinya, Uwais hanya meminta agar kebaikannya tidak diumumkan kepada publik.
Uwais Menyelamatkan Anak Kapal
Setelah kejadian itu, nama Uwais menjadi kabur sehingga tidak didengar lagi cerita tentangnya. Hanya dikisahkan tentang seorang lelaki yang pernah mendapat pertolongan dari Uwais. Ketika dia berada di atas sebuah kapal bersama para pedagang lainnya, tiba-tiba terjadi ribut kencang. Pukulan ombak yang menggila telah menghantam kapal sehingga air laut masuk ke dalamnya dan menyebabkan kapal terhuyung-hayang.
Pada saat itu, anak kapal melihat seorang lelaki yang memakai selimut berbulu berada di dalam kapal mereka, lalu mereka memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan solat di atas permukaan air laut. Semua yang menyaksikan kejadian itu terkejut.
"Wahai wali Allah! Tolonglah kami!" Uwais tidak menoleh.
Mereka merayu lagi, "Demi Zat yang telah memberikan kepadamu kekuatan beribadah, tolonglah kami!"
Uwais menoleh ke arah mereka dan berkata, "Apa yang terjadi?"
"Tidakkah engkau melihat kapal ini terhuyung-hayang dipukul badai dan diterjang ombak?" kata mereka.
Orang itu berkata dengan tenang, "Dekatkanlah diri kalian kepada Allah!"
Kata mereka, "Kami telah melakukannya."
"Keluarlah kalian dari kapal sambil membaca bismillahirrahmanirrahim!"
Mereka satu per satu keluar dari kapal, lalu berkumpul. Jumlah anak kapal pada saat itu lebih dari 500 orang. Sungguh ajaib, mereka semua tidak tenggelam, sedangkan kapal mulai ditenggelami air sehingga tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada mereka, "Tidak apa-apa jika harta kalian menjadi korban asalkan semua selamat."
"Demi Allah, perkenalkan kepada kami siapa tuan?"
Minta mereka kepadanya.
"Uwais al-Qarni"
Mereka berkata lagi, "Harta yang ada di kapal itu milik golongan fakir dan miskin di Madinah. Harta itu dikirim oleh penduduk Mesir."
Wali Allah yang baru dikenal itu kembali bertanya, "Jika Allah mengembalikan harta kalian, apakah kalian akan membagikannya kepada penduduk fakir miskin di Madinah?"
"Insya-Allah," jawab mereka yakin.
Beliau lantas melaksanakan solat dua rakaat diikuti dengan doa. Setelah mengucapkan salam, tiba-tiba kapal itu muncul di permukaan air.
Lalu anak kapal menaikinya kembali dan melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Setibanya di Madinah, mereka membagi-bagikan semua harta kepada fakir di Madinah, tanpa menyisakan apa pun seperti yang dijanjikan kepada Uwais.
Perginya Uwais al-Qarni disambut dengan berbagai kejadian yang menakjubkan. Ketika jenazahnya akan dimandikan, orang-orang berbondong-bondong ingin ikut serta dalam proses tersebut. Bahkan ketika jasadnya hendak dikapankan dan diusung menuju ke pemakaman, banyak orang yang bersedia untuk membantu. Yang lebih mengejutkan, kuburnya sudah siap digali sebelum jenazahnya tiba di sana.
Seorang tabiin, Syeikh Abdullah bin Salamah, menceritakan pengalamannya ketika mengurus jenazah Uwais. Dia ingin menandai tempat kubur Uwais, namun tidak menemukan bekas kubur tersebut.
Kematian Uwais al-Qarni, seorang tabiin yang memiliki banyak karamah, menggemparkan umat Islam. Banyak orang yang tidak dikenal ramai datang untuk mengurus jenazahnya, meskipun Uwais hidup sebagai fakir yang sederhana. Hal ini membuat orang bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya Uwais. Namun akhirnya mereka menyadari bahwa Uwais terkenal di sisi Allah SWT dan penghuni langit, meskipun tidak terkenal di dunia.
Dengan penutupan surah al-Fajr ayat 27-28, Allah mengajak orang-orang yang memiliki jiwa yang tenang dan keyakinan yang teguh untuk kembali kepada-Nya dengan rasa gembira dan puas.




0 comments