SELAMAT DATANG DI PEKANBARU LEGION

Semua pengetahuan yang diperlukan


Kisah berikut ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang ahli hadis terkemuka bernama al-Hafiz Abu Bakar Ahmad bin Ibrahim al-Isma'ili, yang berasal dari kota Jurjan, Iran. Beliau dikenal sebagai ulama besar dalam bidang fiqih dan hadis, serta telah menulis banyak buku yang terkenal, termasuk kitab al-Mustakhraj 'ala Sahih al-Bukhari yang sangat dihargai oleh para ahli hadis. Al-Hafiz Abu Bakar wafat pada tahun 371H.

Meskipun merupakan seorang ahli hadis yang sangat menghindari ilmu kalam, beliau sangat membenci orang-orang yang mempelajarinya. Padahal sebenarnya tidak ada masalah dengan ilmu kalam jika digunakan untuk membela ajaran al-Quran dan as-Sunnah dengan hujah-hujah yang rasional.

Suatu hari, al-Hafiz Abu Bakar al-Isma'ili mengunjungi kota Ray dan masuk ke sebuah masjid untuk melaksanakan salat dua rakaat. Saat salat, beliau tanpa sengaja mendengar dua orang lelaki sedang berdiskusi tentang ilmu kalam. Meskipun tidak suka, beliau teruskan salatnya namun ucapan mereka terngiang dalam hatinya.

Mereka membicarakan bahwa aliran Syiah Ismailiyyah sangat lemah secara akal, dan bahwa ulama tidak perlu bersusah payah memberikan dalil ketika berdebat dengan mereka. Cukup dengan menanyakan "mengapa?", mereka tidak akan mampu memberikan jawaban.

Beberapa waktu kemudian, kelompok pengikut aliran Syiah Ismailiyyah di Ghazna secara terang-terangan mengumumkan keluar dari agama Islam. Mereka menantang Sultan Wasymaker untuk menunjukkan mukjizat, agar mereka kembali ke dalam agama Islam.

Sultan kemudian meminta al-Hafiz Abu Bakar al-Isma'ili untuk berdebat dengan wakil mereka yang licik. Meskipun sebagian ulama putus asa karena meragukan kemampuan beliau dalam ilmu kalam, Sultan percaya bahwa beliau adalah seorang ulama terkenal.

Al-Hafiz Abu Bakar pun diutus ke Ghazna untuk berdebat. Meskipun ragu karena keterbatasan ilmu kalamnya, beliau menerima tugas tersebut dengan hati-hati. Dalam perjalanan ke Ghazna, beliau merenungkan bagaimana ia akan menjawab tantangan tersebut.

Apakah saya harus menjelaskan diri saya kepada Sultan agar beliau memilih orang lain untuk membela agama Islam? Saya menyesal karena tidak pernah belajar ilmu kalam seumur hidup. Tetapi, saya teringat akan percakapan di masjid yang membuat hati saya kuat. Saya akan menjadikan kata-kata mereka sebagai pegangan saya.

Ketika Abu Bakar al-Hafiz tiba di Ghazna, dia disambut oleh Sultan dan rakyat dengan hangat. Kemudian, tokoh bidaah datang dan dipertemukan dengannya. Sultan meminta tokoh tersebut untuk menjelaskan mazhabnya agar Imam Abu Bakar bisa mendengarnya.

Dengan semangat tinggi, tokoh tersebut menjelaskan mazhabnya secara detail. Namun, ketika giliran Imam Abu Bakar berbicara, dia hanya mengajukan satu pertanyaan, "Mengapa?"

Tokoh aliran sesat itu terkejut dan tidak bisa berkata-kata. Sultan dan rakyat bersorak melihat kemenangan Imam Abu Bakar.

Setelah kejadian itu, Imam Abu Bakar merasa bersyukur karena Allah telah menyelamatkannya. Dia berjanji untuk belajar ilmu kalam karena yakin itu penting dalam agama Islam.

Ilmu Fardhu Kifayah juga penting untuk dipelajari. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa sebagian ilmu, meskipun bukan ilmu agama, wajib dipelajari agar umat Islam tidak tergantung pada bangsa lain. Para ulama setuju bahwa ilmu seperti kedokteran, matematika, pertanian, politik, dan lainnya harus dikuasai oleh umat Islam.

Motivasi dalam belajar juga penting. Contohnya, Zaid bin Tsabit yang dengan semangat belajar bahasa Yahudi untuk kebaikan umat Islam. Belajar harus menjadi perjuangan suci untuk meninggikan kalimat Allah.

Dengan demikian, kita harus belajar dengan motivasi yang kuat dan tidak mengabaikan ilmu-ilmu yang penting bagi keberlangsungan umat.


 

Tags:

Share:

0 comments