Sederhana dalam Menyimpan Rasa Benci
Membela orang yang dicintai adalah tindakan yang mulia, tetapi membela musuh yang sedang dizalimi jauh lebih mulia. Sikap ini mencerminkan hati yang patuh pada hukum Allah SWT.
Kisah yang terjadi di Mesir pada masa lalu melibatkan dua ulama terkenal, Ibnu Daqiq al-'Ied dan Ibnu binti al-A'az. Kedua ulama ini memiliki hubungan yang dipenuhi dengan kebencian dan konflik.
Suatu hari, Ibnu binti al-A'az melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafi oleh Sultan dan Wazir. Mereka sepakat untuk menghukumnya dengan tuduhan palsu atas murtad.
Surat tuduhan itu disebarkan ke semua tokoh penting di Mesir. Satu per satu menandatangani surat tersebut.
Ibnu Daqiq al-'Ied adalah yang terakhir menerima surat itu. Jika ia menandatangani, Ibnu binti al-A'az akan dihukum mati.
Setelah membaca surat dengan teliti, Ibnu Daqiq al-'Ied menolak untuk menandatangani. Semua orang terkejut, mereka mengira ia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyingkirkan musuhnya.
Namun, Ibnu Daqiq al-'Ied menolak dengan tegas. Ketika ada yang merayu untuk memikirkan Sultan dan Wazir, ia marah. "Aku tidak akan berpartisipasi dalam pembunuhan seorang Muslim!"
Sikap tegas ini berhasil menggagalkan konspirasi jahat tersebut sekaligus meningkatkan reputasi Ibnu Daqiq al-'Ied di mata umat Islam hingga saat ini.
Etika Bermusuhan
Setiap individu berada di antara dua kelompok manusia, yaitu orang-orang yang mencintainya dan yang membencinya. Hati kita cenderung dekat dengan yang pertama dan jauh dari yang kedua. Namun, apakah pedoman cinta dan benci yang harus kita ikuti sebagai seorang Muslim?
Islam tidak hanya mengajarkan etika persahabatan, tetapi juga etika konfrontasi. Prinsip utama yang menjadi dasar kedua etika ini adalah "keadilan (moderat)."
Islam melarang kita untuk terlalu mencintai dan membenci hingga menyebabkan kita buta terhadap kebenaran.
Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri, atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu keduanya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari keadilan. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan memberi kesaksian, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Surah al-Ma'idah 5: 8)
Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, "Cintailah kekasihmu sebatas yang seharusnya, siapa tahu suatu hari ia akan menjadi musuhmu. Bencilah musuhmu sebatas yang seharusnya, siapa tahu suatu hari ia akan menjadi kekasihmu." Meskipun ini dinyatakan sebagai ucapan Nabi SAW, namun dengan sanad yang lemah.
Ketika Kebencian Melebihi Batas Moderat
Dari sini, kita dapat melihat bahwa Islam memerintahkan kita untuk mengontrol cinta dan benci dalam batas yang moderat (adil).
Jika kebencian melampaui batas moderat, kita akan hidup dalam penderitaan psikologis yang menyiksa.
Setiap kali mendengar nama orang yang kita benci, hati dan pikiran kita menjadi gelisah. Jika ada yang memuji orang tersebut, hati kita menjadi panas.
Kita tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang itu memiliki kelebihan apa pun. Kita segera mencari-cari keburukan orang tersebut untuk disebarluaskan.
Batasan moderat dalam mencintai dan membenci tidak mudah dilihat oleh semua orang. Hanya sedikit orang yang bisa melihat batasan ini jelas, yaitu saat emosi dan ego telah tunduk kepada ajaran Al-Quran dan As-Sunnah, seperti yang dialami oleh Ibnu Daqiq al-'Ied. Tokoh besar ini adalah Taqiyuddin Ali bin Wahd al-Qusyairi, yang lahir pada tahun 625H di Hijaz dan menghabiskan hidupnya dalam belajar ilmu agama dengan sungguh-sungguh. Dia dikenal sebagai ulama yang sedikit berbicara namun banyak beribadah, sangat zuhud, warak, dan penuh takwa kepada Allah SWT.
Semua sifat mulia ini tercermin dalam kisah yang telah disampaikan sebelumnya. Saat menceritakan kisah ini, al-Hafiz as-Sakhawi pernah mengatakan, "Betapa tidak? Beliau pernah berkata, Tidaklah aku mengucapkan atau melakukan sesuatu melainkan setelah aku siapkan jawapanku di hadapan Allah SWT kelak." Tokoh besar ini meninggal di Mesir pada tahun 695H.
Ya Allah, kami memohon agar dapat menjaga keseimbangan dalam cinta dan benci. Jagalah hati kami agar tidak tertutup oleh keduanya. Karena kebutaan hati merupakan bencana terburuk yang bisa Engkau timpakan kepada hamba-Mu di dunia ini. Amin ya rabbal 'alamin.




0 comments