SELAMAT DATANG DI PEKANBARU LEGION

Sekelumit Cerita Hidup


Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat malam sahabat-sahabat yang saya kasihi dan perhatikan dengan penuh kasih di dunia blog ini. Malam ini, saya ingin berbagi sedikit kisah hidup saya yang terpatri dalam ingatan saya. Semoga Anda tidak merasa bosan membaca cerita saya yang mungkin dianggap tidak memiliki bobot atau tidak memberikan ilmu yang berarti. Saya akan menceritakan sedikit tentang kehidupan saya, semoga cerita ini mendapat ridho-Nya. Amin Ya Robbal Alamin.

Opick kecil lahir dari keluarga yang cukup besar, karena nenek saya menikah dua kali. Dari kedua pernikahan tersebut, lahir beberapa anak. Sehingga, saya memiliki banyak keluarga yang saat ini tersebar di sekitar pulau Jawa. Saat kakek dan nenek dari pihak ibu masih hidup, kehidupan Opick kecil cukup sejahtera karena kakek memiliki usaha jual beli hasil pertanian yang didukung oleh tengkulak dari luar negeri.

Rumah kami dulu cukup besar dan mewah dengan bahan bangunan yang berkualitas tinggi. Meskipun rumah tersebut sudah berusia puluhan tahun, namun tetap berdiri kokoh tanpa perubahan yang signifikan. Orang tua saya selalu menyebut bahwa rumah tersebut dibangun dengan bahan berkualitas, sehingga tidak mudah rapuh meskipun terbuat dari kayu.

Orang tua Opick kecil terbiasa hidup nyaman karena usaha kakek yang maju pesat. Pembeli dan penjual hasil pertanian seringkali datang sendiri ke rumah kami tanpa perlu mencarinya. Ayah saya juga tidak terlalu khawatir dalam menafkahi keluarga karena kehidupan yang nyaman tersebut. Sang kakek adalah sosok yang gigih dan disiplin dalam bekerja, meskipun tidak pandai membaca atau berhitung.

Namun, sayangnya kekurangan kakek dalam bidang literasi dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak menyukainya untuk mengelabui dan merugikannya. Situasi ini membuat usaha kakek tidak menghasilkan keuntungan seperti sebelumnya, meskipun segala sesuatunya berjalan lancar menurut pengetahuan kakek.

Untuk pembaca yang terhormat...Sampai akhirnya kakek mengalami kebangkrutan. Hutang menumpuk, dan kami terpaksa menjual harta benda demi melunasi hutang. Rumah yang pernah menjadi kebanggaan kami juga harus kami tinggalkan. Kami pindah ke desa, dari kota, dan membeli rumah yang lebih kecil dan murah, asalkan kami memiliki tempat berteduh. Di desa, kesehatan kakek dan nenek semakin menurun, mereka sering sakit. Ayah dan ibu harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan kami. Saya, Opick kecil, anak sulung dari empat bersaudara, terbiasa dengan kehidupan yang sulit. Hanya selama 5 tahun, saya merasakan kehidupan enak selama kakek dan nenek masih sehat. Namun, malapetaka menimpa saya ketika mata kanan saya tertusuk gunting saat masih kecil. Meskipun hanya bagian sudut mata yang terkena, namun insiden itu membuat penglihatan saya agak kurang jelas.

Ketika saya berusia 5 tahun, nenek meninggal dunia, diikuti oleh kakek 100 hari kemudian. Ayah bekerja sebagai tukang jahit dan ibu berjualan pakaian jadi. Meskipun saya mengalami kekurangan, saya belajar dengan tekun dan mendapatkan peringkat dan beasiswa hingga kelas 6. Hal ini membantu meringankan beban orang tua dalam membiayai pendidikan saya dan adik-adik.

Namun, dengan berat hati, saya harus menghentikan pendidikan saya untuk membantu orang tua. Saya memutuskan untuk merantau ke kota seperti teman saya, demi meringankan beban keluarga.

Demikianlah sekelumit kisah hidup saya. Semoga Anda dapat memakluminya. Akhir kata, semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah, salam sejahtera untuk Anda.


 

Share:

0 comments