SELAMAT DATANG DI PEKANBARU LEGION

Ambisi yang terpendam adalah menjadi sosok pemimpin


Cita-cita menjadi pemimpin bisa diartikan sebagai keinginan atau kecintaan untuk menjadi yang terdepan di antara orang lain. Bahkan, ada yang sampai meminta dengan jelas untuk diangkat menjadi pemimpin. Rasulullah saw pernah bersabda, "Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan jabatan kepada orang yang meminta untuk diangkat, dan juga kepada orang yang berharap-harap untuk diangkat." (HR Bukhari dan Muslim)

Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang memiliki ambisi untuk menjadi pemimpin, salah satunya adalah keinginan untuk memperoleh kekayaan duniawi. Mereka berpikir bahwa dengan menjadi pemimpin, mereka bisa mendapatkan kekayaan materi dengan cara yang tidak benar, seperti melakukan korupsi. Namun, ada juga faktor lain yang mendorong seseorang untuk berambisi menjadi pemimpin, yaitu ketidaksadaran akan konsekuensi dari kelalaian seorang pemimpin.

Kelalaian seorang pemimpin bisa membuka jalan bagi kejahatan dan pengikutnya untuk menyebabkan kerusakan di dunia, merusak sumber daya alam. Di akhirat nanti, pemimpin seperti itu akan mendapat siksa di neraka. Rasulullah saw menyatakan, "Seorang hamba yang dipercayai oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, tetapi ia menipu rakyatnya, maka jika ia mati, Allah mengharamkan surga baginya." (HR Bukhari dan Muslim)

Dampak buruk dari penyakit ambisi menjadi pemimpin adalah terhalangnya pertolongan dan taufik dari Allah swt. Mereka yang berambisi menjadi pemimpin hanya mengandalkan kemampuan dan kekuatan mereka sendiri tanpa bergantung kepada pertolongan Allah swt. Padahal, seharusnya manusia menyadari bahwa hanya dengan bantuan dan kekuatan dari Allah swt, segala usaha akan mendapat hasil yang maksimal dan penuh berkah.

Salah satu cara untuk menyembuhkan penyakit ambisi menjadi pemimpin adalah dengan selalu mengingat perbandingan antara dunia dan akhirat berdasarkan Al-Qur'an dan hadits Rasulullah saw. Allah swt berfirman, "Katakanlah, kenikmatan dunia itu hanya sesaat, sedangkan akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa." (QS an-Nisa':77) Rasulullah saw juga menyatakan, "Dunia, dibanding akhirat, hanyalah seperti kalian mencelupkan jari kalian di air laut, lalu perhatikanlah air yang menetes kembali (itulah dunia)." (HR Muslim, Turmudzi, Ibn Majah dan Ahmad)

 


 

Share:

0 comments