Alih profesi seseorang dukun menjadi peruqyah
Menjadi seseorang yang memiliki kekuatan luar biasa memang bukan perkara yang mudah. Banyak hal yang harus dikorbankan demi mencapai tujuan tersebut. Jika pengorbanan tersebut hanya terkait dengan materi, waktu, dan tenaga, maka itu masih bisa diterima. Semua hal tersebut hanya bersifat sementara. Namun, jika harus mengorbankan keyakinan, maka sebaiknya jangan mencoba untuk menjadi seseorang yang memiliki kekuatan luar biasa. Penderitaan yang tak berujung di akhirat pasti menanti. Karena untuk mencapai kekuatan tersebut, dengan sadar atau tidak, seseorang harus bekerja sama dengan makhluk halus, seperti yang diungkapkan oleh Dida, seorang mantan dukun yang telah bertaubat dan telah menyelesaikan hafalan al-Qur'an. Berikut adalah cuplikan kisahnya.
Sejak kecil, saya selalu bercita-cita untuk menjadi seseorang yang memiliki kekuatan luar biasa. Dapat terkena senjata tajam, tusukan tombak pun hanya akan membuat saya tersenyum. Darah orang kuat mengalir dalam diri saya. Kakek saya adalah seorang yang memiliki kekuatan luar biasa. Dia sangat terkenal di kampung saya. Untuk mencapai kekuatan tersebut, kakek rela berpuasa selama empat puluh hari sambil duduk di atas pohon kelapa. Berpuasa selama empat puluh hari bukanlah perkara yang mudah, banyak yang tidak sanggup melakukannya. Namun, kakek berhasil bertahan di atas pohon kelapa selama empat puluh hari. Semangat yang membara itulah yang membuat kakek mampu bertahan, semua itu dilakukan untuk mewujudkan impian menjadi orang yang memiliki kekuatan luar biasa.
Karena itu, ketika saya menyampaikan keinginan saya untuk menjadi seseorang yang memiliki kekuatan luar biasa, ibu tidak melarang. Bagi ibu, hal-hal gaib bukanlah hal yang asing. Perjalanan saya dalam dunia kekuatan luar biasa dimulai ketika saya masih duduk di bangku SMP. Awalnya, saya bergabung dengan perguruan silat di kampung saya bersama teman-teman. Latihan fisik menjadi rutinitas harian saya. Selain itu, saya juga belajar ilmu agama di beberapa tempat. Bahkan, saya mulai berpuasa meskipun saya masih kecil. Meskipun dilarang untuk berpuasa karena usia saya yang masih muda, tetapi keinginan saya untuk memiliki kekuatan luar biasa begitu kuat sehingga larangan tersebut tidak saya hiraukan. Saya nekat berpuasa dengan intensitas yang berat untuk seorang anak seusia saya. Selama tiga hari, saya hanya makan tiga suapan nasi saat berbuka.
Nasi dicampurkan dengan air lalu diaduk. Air nasi kemudian diminum sekaligus, diikuti dengan dua teguk. Kemudian nasi dimakan tiga suapan. Tidak boleh lebih dari itu. Setelah itu, saya tidak boleh makan lagi hingga sahur. Tidak ada larangan untuk sahur, namun karena mulut terasa pahit, saya malas untuk sahur. Praktis selama tiga hari, saya hanya makan tiga suapan nasi setiap kali berbuka. Saya berhasil melewati tiga hari pertama dengan baik, kemudian dilanjutkan dengan puasa tujuh hari. Meskipun badan terasa lemas, saya masih mampu menyelesaikannya. Terakhir, saya berpuasa selama dua puluh satu hari. Puasa tersebut sangatlah berat. Terlebih lagi, di sekitar saya tidak ada yang berpuasa. Hanya saya seorang.
Tantangannya begitu berat bagi saya. Sulit untuk tidur. Bahkan ketika ibu menggoreng ikan asin, saya sudah merasa sangat lapar. Karena keinginan saya begitu besar. Setelah menyelesaikan puasa selama dua puluh satu hari, saya bisa melakukan gerakan-gerakan silat yang sebelumnya tidak pernah saya pelajari. Keberhasilan berpuasa selama tiga puluh hari membuat tekad saya semakin kuat. Saya pun mulai melakukan perjalanan dengan beberapa teman. Saya kadang-kadang pergi ke Jawa Tengah. Tetapi saya tinggal di Jawa Timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah. Jika ada seseorang yang memiliki kekuatan luar biasa, saya akan mengunjunginya. Biasanya, saya pergi bersama teman-teman se-perguruan. Pernah suatu ketika, saat saya mengunjungi "orang kuat," saya diisi dengan tenaga dalam tingkat menengah.
Setelah diisi, langsung saya mencoba. Memang, ketika ada teman yang memukul saya, dia langsung terpental. Saat itu saya heran, bagaimana hal itu bisa terjadi. Saya pun menganggap bahwa itu adalah karunia Allah. Selama perjalanan saya, orang tua saya memberi pesan agar saya tidak bekerja sama dengan makhluk halus. Mereka mengatakan bahwa itu tidak boleh dilakukan. Menurut pengetahuan orang tua saya, para dukun bekerja sama dengan makhluk halus. Namun, apa yang saya pelajari berbeda dengan ilmu perdukunan. Saya berzikir dengan ayat-ayat Al-Qur'an atau doa dalam bahasa Arab. Jadi, mereka tidak melarang.
Masa-masa SMA saya tidak jauh berbeda. Saya masih terus berjuang dalam dunia kekuatan luar biasa. Saya belum pernah berhenti mencari ilmu dan pengalaman. Saya mulai membiasakan diri untuk bermalam di kuburan. Bagi kebanyakan orang, kuburan adalah tempat yang menyeramkan. Banyak yang tidak berani melewati kuburan, bahkan saat siang hari. Rasa takut itu seolah-olah telah hilang dari diri saya.
Bagi saya, bermalam di kuburan tidaklah berbeda dengan bermalam di rumah sendiri. Saya merasa nyaman di sana. Bahkan saya merasa lebih dekat dengan orang-orang yang memiliki kekuatan luar biasa yang jasadnya berbaring di dalam tanah. Setelah saya lulus SMA, saya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta di Surabaya, Jawa Timur. Saya masuk ke fakultas sastra Inggris. Awalnya, saya menikmati masa perkuliahan saya dengan senang hati. Namun suatu saat, teman-teman di fakultas mengadakan kegiatan yang berbau islami. Saat itu, saya terkesan dengan bacaan al-Qur'an yang diperdengarkan di awal acara tersebut.
Saya merasakan dorongan halus yang masuk ke dalam jiwa saya. Ada suatu dorongan yang membuat saya ingin menjadi seorang penghafal al-Qur'an. Dorongan yang begitu kuat itu tidak bisa saya tahan lagi. Akhirnya, saya memutuskan untuk meninggalkan sastra Inggris dan fokus pada mempelajari al-Qur'an. Ketika saya menyampaikan keinginan saya kepada orang tua, mereka tidak melarang. Mereka hanya memberi pesan agar saya serius dalam mengambil keputusan tersebut. Menjadi seorang penghafal al-Qur'an tidaklah semudah yang dibayangkan.
Dibutuhkan tekad yang kuat agar tidak goyah di tengah jalan. Nasihat dari orang tua pun saya terima. Saya pun meninggalkan rumah dengan satu tujuan. Mencari pondok tahfidz. Pilihan saya jatuh ke Banten, Jawa Barat. Meskipun di Jawa Tengah juga terdapat pondok tahfidz, namun saya lebih memilih Banten. Alasannya adalah lokasinya yang jauh dari rumah, sehingga saya tidak akan mudah pulang. Saat pertama kali mengunjungi Banten, saya merasa seperti ada yang membimbing saya.
Saya tidak langsung menuju pondok tahfidz, tetapi saya diarahkan ke pesantren yang mengajarkan ilmu kekuatan luar biasa. Hal ini terjadi dengan cara yang cukup unik. Saya belum pernah ke Banten sebelumnya. Wilayah Banten sangat luas dan terdapat banyak pesantren di sana. Ketika saya tiba di terminal Kalideres, Jakarta Barat, kondektur bertanya, "ke mana tujuan Anda?" Saya jawab, "ke Banten," sambil memberikan uang dua ribu lima ratus rupiah. Ternyata saya diturunkan di Cadasari. Di sana terdapat pesantren yang terkenal. Ongkos bis pun pas dengan uang yang saya berikan. Sebenarnya, ketika saya sampai di daerah Cadasari, saya sudah merasa ingin turun saja. Sepertinya hati saya cocok dengan daerah tersebut. Padahal saya belum mendapat informasi apapun tentang Cadasari. Apakah di sana terdapat pondok tahfidz atau pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu Islam lainnya.
Setelah mencari informasi ke sana ke mari, saya disarankan untuk tinggal di sebuah pesantren terkenal di daerah tersebut. Saya berpikir, tidak ada salahnya untuk belajar di pesantren tersebut. Banyak santri dari luar daerah juga memiliki tujuan yang sama seperti saya. Meskipun pesantren tersebut tidak fokus pada hafalan al-Qur'an, saya tidak terlalu kecewa. Karena saya mendapatkan penggantinya. Impian saya untuk menjadi 'orang sakti' bisa kembali terwujud. Amalan puasa dan wiridan tertentu kembali menjadi bagian dari rutinitas harian saya.
Untuk menjadi 'orang sakti', saya menjalankan Hizb Nashr yang dimulai dengan puasa tujuh hari. Proses ini tidaklah mudah, namun dengan tekad yang kuat, semua rintangan terasa tidak berarti. Selama menjalankan Hizb Nashr, terjadi kejadian aneh dimana darah keluar dari hidung, mata, dan pori-pori saya. Namun, menurut penjelasan yang saya dengar, hal tersebut adalah akibat dari peningkatan suhu tubuh saat merapal wirid Hizb Nashr. Darah akan berhenti keluar secara alami ketika saya membaca al-Qur'an.
Selama belajar ilmu kesaktian, saya harus bersedia melakukan berbagai macam wiridan dan puasa yang sangat menyita waktu dan tenaga. Meskipun demikian, saya tetap bersungguh-sungguh dalam mengejar ilmu tersebut. Dengan pengalaman bersama para guru sakti di Banten, saya terus menggali ilmu-ilmu baru. Proses belajar tidak selalu mudah, namun saya yakin bahwa setiap perjuangan akan membuahkan hasil.
Dalam perjalanan hidup saya, saya juga sering melakukan pengobatan dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Meskipun uang terkadang menjadi kendala, saya selalu percaya bahwa rezeki datang dari Allah SWT. Saya terus berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain, mengumpulkan ilmu dan pengalaman baru. Akhirnya, saya menemukan pesantren yang tepat di Tanggerang, Jawa Barat, di mana saya bisa fokus dalam menghafal al-Qur'an.
Saat bergabung dengan lembaga tahfidz di Jakarta, wawasan keislaman saya semakin terbuka. Saya mulai merenungkan firman Allah dan menelaah artinya secara mendalam. Dari situlah saya menyadari bahwa ilmu kesaktian yang saya pelajari sebelumnya tidak selaras dengan ajaran Islam. Saya mulai memperbaiki arah dan fokus belajar pada ilmu yang benar-benar sesuai dengan ajaran agama. Dengan tekad dan keyakinan yang kuat, saya melangkah menuju perubahan yang lebih baik dalam hidup saya.
Selain itu, saya baru menyadari bahwa terdapat beberapa doa permintaan bantuan kepada jin. Meskipun lafadznya dalam bahasa Arab, namun doa tersebut tetap dianggap terlarang. Sejak saat itu, saya menghentikan wiridan-wiridan yang biasa saya baca setiap saat. Saya menggantinya dengan ayat-ayat al-Qur’an, yang menenangkan hati. Selama saya mempelajari ilmu kesaktian hingga saat menghafal al-Qur’an, saya memang tidak merasakan gangguan fisik maupun psikis.
Namun, hal tersebut tidak berarti bahwa saya tidak memiliki jin di dalam diri saya. Saya memiliki beberapa jin sebagai hasil dari wiridan dan puasa yang saya lakukan. Jin-jin tersebut membantu saya dalam pengobatan. Saya yakin, ketika saya tidak lagi mempraktikkan ilmu kesaktian dengan membaca wiridan-wiridannya, ilmu tersebut akan perlahan-lahan menghilang. Seperti pisau yang tidak diasah, ilmu tersebut akan semakin tumpul.
Oleh karena itu, saya selalu menjaga diri dengan membaca doa-doa perlindungan dan mendengarkan kaset ruqyah dari pustaka ghoib. Saya juga rutin melakukan ruqyah mandiri dengan ayat-ayat al-Qur’an yang telah saya hafal. Alhamdulillah, setelah tiga tahun di lembaga tahfidz, saya berhasil menyelesaikan hafalan. Sekarang, yang perlu saya lakukan adalah membagi waktu agar hafalan al-Qur’an saya tetap terjaga.
Saya telah meninggalkan praktik perdukunan di masa lalu. Ketika ada pasien yang datang untuk berobat, saya tidak lagi menggunakan ilmu kesaktian yang pernah saya pelajari selama sepuluh tahun. Sebaliknya, saya melakukan ruqyah dengan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits yang shahih. Beberapa kali saya juga diundang untuk mengisi kajian yang membahas kesesatan ilmu kesaktian yang diajarkan di pesantren.
Bedah Kesaksian Jin yang Menyusup dalam Wiridan Hizib kali ini akan menghadirkan seorang mantan dukun yang telah bertaubat. Kini, ia telah menyelesaikan hafalan al-Qur’an dan berganti profesi. Ia telah meninggalkan praktik perdukunan dan beralih ke ruqyah sebagai metode pengobatan. Kita harus mengapresiasi keberaniannya dalam membongkar kesesatan praktik perdukunan yang pernah digelutinya.
Namun, saya harus menutupi namanya. Ia sangat ahli dalam "perselingkuhan" dengan jin saat belajar ilmu kesaktian. Ia memahami dengan mendalam tentang ilmu yang dipelajarinya. Bahkan, beberapa kyai akhirnya menjadi muridnya. Sepuluh tahun yang lalu, orang tua Dida telah memberikan pesan. Mereka memperbolehkan anaknya belajar ilmu kesaktian asal tidak bekerja sama dengan jin. Syarat yang sederhana namun bermakna.
Orang tua Dida membiarkan anaknya belajar apa pun, selama tidak menyekutukan Allah. Pesan seperti inilah yang seharusnya disampaikan setiap orang tua kepada anak-anaknya. Namun sayangnya, pemahaman orang tua Dida tentang tipu daya jin masih terbatas. Mereka tidak tahu bahwa anak mereka telah bekerja sama dengan jin. Mereka hanya tahu bahwa dukun-dukun di daerah mereka yang bekerja sama dengan jin. Padahal apa yang dipelajari Dida, katanya, berasal dari ayat-ayat al-Qur’an serta doa-doanya yang berbahasa Arab. Setan memang sangat licik. Ia memanfaatkan segala peluang untuk menyesatkan manusia. Ayat al-Qur’an pun bukan tidak luput dari tipuannya. Sehingga banyak orang terkecoh dan tanpa sadar meminta bantuan kepada jin. Mari kita biarkan Dida membuka kedok "perselingkuhannya" dengan jin saat ia merapal wirid dari hizib-hizib tertentu.
Di sini, kita akan membahas dua contoh dari banyak hizib yang dikuasai Dida. Pertama adalah hizib Nashor. Untuk menguasai hizib ini, Dida atau siapa pun yang mempelajarinya harus berpuasa terlebih dahulu. Untuk tingkatan pertama, puasa selama empat puluh hari. Tingkatan kedua, puasa selama tiga bulan. Dan tingkatan ketiga, puasa seminggu. Puasa dalam hizib Nashor ini seolah tidak bertentangan dengan syariah karena dilakukan dengan mengamalkan wiridan dan doa-doa tertentu. Namun, syetan masuk dengan halus di sini. Padahal tata cara puasa seharusnya mengikuti ajaran Rasulullah. Tidak boleh membuat aturan sendiri. Rasulullah pernah mengatakan, "Barang siapa yang melakukan suatu perbuatan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalannya tertolak."
Perbedaan antara halal dan haram sudah jelas. Tata cara pelaksanaan ibadah juga sudah dijelaskan dengan jelas baik dalam al-Qur'an maupun dari contoh langsung Rasulullah. Ketika Rasulullah wafat, agama Islam sudah mencapai kesempurnaannya. Allah berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 3, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu..." Tata cara puasa juga sudah dijelaskan oleh Rasulullah. Tidak ada hadis shahih yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah berpuasa empat puluh hari kemudian tiga bulan dan diakhiri dengan puasa seminggu.
Jika Rasulullah tidak mengajarkannya, maka puasa dalam hizib Nashor tidak akan diterima oleh Allah. Karena syarat diterimanya ibadah adalah tidak menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan Allah. Lalu siapa yang menyusup ke dalam kesaktian yang diperoleh setelah menyelesaikan hizib Nashor? Apakah dia malaikat? Jawabannya tentu tidak. Malaikat tidak akan menolong orang yang bermaksiat kepada Allah. Yang datang menolong adalah jin. Dida menjelaskan bahwa hizib Nashor bisa digunakan untuk mengisi wifiq atau jimat. Yang dimasukkan ke dalam wifiq atau jimat tersebut adalah jin. Saat pengisian dilakukan, Dida menggunakan apel jin atau hio yang dibakar. Apel jin dan hio sama dengan kemenyan, hanya harganya lebih mahal.
Ketika asap sudah mengepul, Dida memanggil khadam jin dan memasukkannya ke dalam wifiq atau jimat dengan membaca "Ya khodaama hadzihil asma'...". Namun, surah Al-Jin ayat 6 mengingatkan manusia agar tidak bekerja sama dengan jin. Oleh karena itu, waspadalah. Jangan mudah terkecoh oleh tipu daya jin yang bersembunyi di balik ayat-ayat al-Qur’an. Karena hal itu hanya akan menimbulkan petaka dan bencana.




0 comments