SELAMAT DATANG DI PEKANBARU LEGION

Gara-gara Buang Air kecil Sembarangan


Gara-gara buang air kecil sembarangan di sebuah pohon tua, kemaluan seorang pemuda membengkak dan bernanah. Bukan itu saja, dia kerap diteror oleh sosok kakek bongkok berwajah seram, yang mengaku sebagai penghuni pohon yang telah dikotorinya. Bagaimana kisah mistisnya.... Sebut saja namaku Chandra, berumur 22 tahun.

Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Pengalaman sarat mistis ini kualami berawal ketika aku dan teman-teman kampus berekreasi ke Pelabuhan Ratu, untuk mengisi liburan akhir semester. Sengaja kisah ini kututurkan kepada Penulis, agar para pembaca dapat mengambil hikmah.

Ya, setidaknya dapat berhati-hati dalam melakukan setiap aktifitas karena di dunia ini tanpa kita sadari terdapat dimensi kehidupan lain, yang di dalamnya hidup mahluk- mahluk yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang.... Suatu pagi di bulan Agustus 2026, aku terbangun setelah mendengar suara rombongan sepeda motor yang meraung-raung di halaman depan rumahku. Lalu kulirik jam dinding yang ada di kamar tidur. "Astaga!" Pekikku dalam hati, ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 08 pagi. Memang, untuk mengisi liburan panjang, hari ini aku bersama teman-teman kampus akan berekreasi ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Saat hendak beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba daun pintu kamar terbuka lebar dan beberapa orang masuk menyerbuku. 

Mereka tak lain adalah teman-teman kampusku. "Hari gini masih molor. Huh, dasar!" Teriak Muiz, sambil memukulkan bantal guling ke kepalaku. "Cepatan kamu mandi, teman-teman sudah menunggu di depan," ujar Indra pula. Dengan langkah yang gontai dan mata masih setengah terpejam, aku pun berjalan menuju kamar mandi. Kira-kira pukul setengah sepuluh pagi aku dan rombongan pun berangkat menuju Pelabuhan Ratu. Kami memilih sepeda motor sebagai kendaraan.

Selain lebih praktis dan terhindar dari kemacetan, dengan bersepeda motor sensasi petualangan akan lebih terasa serta bisa memacu adrenalin. Dengan berkonvoi secara tertib, kami menelusuri jalanan yang berkelak-kelok, mendaki dan menurun. Melewati barisan pohon-pohon yang rindang dan bukit yang menjulang. Bila rasa lelah dan dahaga mendera, kami pun beristirahat di pepohonan yang rindang. Sambil melepas lelah kami pun bercanda ria. Setelah merasa cukup beristirahat kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 16.00 sore atau selama lima jam lebih perjalanan, akhirnya kami pun tiba di Karang Hawu yang tidak jauh dari hotel Samudra Beach. Suara deburan ombak dan pasir putih seakan menyambut kedatangan kami.

Sorak-sorai riuh terdengar menyatu dengan deburan ombak saat teman-temanku melompat ke laut. Jiwa terasa tenang saat aku berdiri di tepi pantai, memandang luasnya air biru. Angin segar menerpa wajah dan rambutku, memberikan kedamaian. Kami menghabiskan waktu dengan riang, bercanda, menghangatkan diri di dekat api unggun, dan tidur di tenda yang menghadap ke pantai. Pengalaman yang indah dan tak terlupakan.

Setelah dua hari di Pelabuhan Ratu, kami harus kembali ke rutinitas. Meskipun ingin bertahan lebih lama di sana, kami harus kembali untuk kuliah. Perjalanan pulang penuh dengan istirahat karena kelelahan dan keletihan dari liburan. Saat berhenti di gubuk tua di pinggir jalan, kejadian yang mengerikan menimpaku.

Ketika teman-teman ingin buang air kecil, aku memilih pohon besar di belakang gubuk. Meskipun teman-teman memperingatkan, aku mengabaikan dan bahkan mencemooh kepercayaan mereka pada hal-hal gaib. Namun, setelah kembali ke perjalanan, tubuhku mulai merasa aneh. Mata berkunang-kunang, kepala pusing, dan tubuh dingin. Meskipun hanya sesaat, itu membuatku khawatir.

Sampai di rumah, aku merasakan gatal di kemaluanku yang tidak kunjung reda. Setelah beberapa hari, gatal tersebut semakin parah dan ketika aku memeriksanya, aku kaget melihat bintik-bintik kecil di sekitar kemaluanku. Segera aku pergi ke dokter kelamin dan mendapat diagnosa yang mengejutkan: sifilis. Aku tidak percaya, karena aku tidak pernah melakukan hubungan intim dengan siapapun.

Kini, aku harus menghadapi kenyataan yang sulit dipercaya itu dan mencari tahu bagaimana penyakit itu bisa menjangkitiku. Ternyata, keputusanku untuk mengabaikan peringatan teman-teman tentang tempat yang seram itu telah membawa dampak yang serius pada kesehatanku. Pelajaran berharga untuk selalu menghargai kepercayaan dan waspada terhadap lingkungan sekitar.

Di usia 22 tahun, saya belum pernah terlibat dalam hubungan intim dengan siapapun, baik itu pelacur maupun pacar. Bahkan untuk mencium bibir saja, saya tidak berani, apalagi berhubungan badan.

Meskipun tidak terima dengan diagnosis dokter, saya tetap mengikuti saran dan resep obat yang diberikan. Namun, penyakit yang saya derita malah semakin parah. Benjolan-benjolan kecil berubah menjadi benjolan yang besar dengan rasa gatal yang sangat mengganggu. Bahkan saat buang air kecil pun terasa perih.

Saya merasa malu dan takut untuk memberitahukan kepada keluarga atau teman-teman tentang penyakit aneh yang saya alami. Saya lebih memilih menyendiri di dalam kamar. Namun, semakin hari kondisi saya semakin memburuk.

Akhirnya, dengan beban yang terlalu berat untuk ditanggung sendiri, saya akhirnya menceritakan semuanya kepada ayah. Namun, hasil pemeriksaan darah menunjukkan bahwa saya tidak terkena penyakit kelamin apa pun. Setelah perawatan intensif, kondisi saya sama sekali tidak membaik.

Benjolan di kelamin saya semakin membesar dan disertai nanah, menjalar ke bagian tubuh lainnya. Kesehatan saya semakin menurun, dengan suhu tubuh yang tinggi dan badan yang semakin kurus. Anehnya, saya sering bermimpi buruk tentang seorang kakek bongkok yang tampak menikmati penderitaan saya.

Bahkan dalam keadaan sadar, saya melihat sosok misterius itu berdiri di dekat jendela kamar. Ketakutan pun melanda, namun ayah dan ibu menganggap hal itu hanya halusinasi semata. Sementara itu, kondisi kesehatan saya semakin mengkhawatirkan.

Saat itu, kejanggalan semakin sering menghantui saya. Pernah suatu malam, saya terbangun oleh suara tawa yang menggelegar. Saat saya membuka mata, saya melihat seorang kakek bongkok berdiri di atas tubuh saya, menindih dan menginjak-injak kemaluan saya. Saya berteriak ketakutan dan dengan cepat membangunkan seluruh anggota keluarga.

Kondisi saya yang semakin memburuk membuat orang tua, sahabat, dan teman-teman kampus saya merasa sedih. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan saya, namun semua usaha itu sia-sia. Namun, Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Dengan izin-Nya, saya bertemu dengan seorang pria baik hati dan bijaksana, yaitu Arif.

Pertemuan saya dengan Pak Arif tidak terduga. Pamanku yang sedang berada di Jakarta mengunjungi saya karena ada urusan tertentu, dan dia membawa Pak Arif, salah satu temannya dari kantor. Ketika Pak Arif melihat kondisi saya yang lemah, dia terkejut.

Pak Arif mengungkapkan kepada saya dan keluarga tentang penyebab sebenarnya dari penyakit yang saya alami. Dia menjelaskan bahwa saya tidak menderita penyakit medis, melainkan penyakit akibat gangguan jin. Dari deteksi yang dilakukannya, diketahui bahwa saya telah mengganggu jin karena mengotori rumahnya, yang sebenarnya adalah pohon tempat saya buang air kecil saat perjalanan dari Pelabuhan Ratu ke Jakarta.

Saat Pak Arif mengucapkan doa dan menyembuhkan saya, terjadi kejadian tak terduga. Gelas yang berisi air putih yang diberkati pecah di tangan Pak Arif karena terkena kekuatan gaib. Pak Arif kemudian melihat sosok kakek bongkok yang sering mengganggu saya, namun hanya saya dan Pak Arif yang bisa melihatnya. Setelah pertarungan sengit, Pak Arif berhasil mengalahkan kakek bongkok itu.

Namun, kakek bongkok itu kemudian merasuki tubuh ibu saya dan membuatnya kerasukan. Kami semua panik, namun Pak Arif dengan tenang mengusir roh jahat itu. Setelah keadaan tenang, Pak Arif melanjutkan pengobatan dengan air suci yang diberkati. Saya merasa lebih baik setelah minum air tersebut, dan Pak Arif membersihkan energi negatif yang bersarang dalam tubuh saya.

Dengan terapi yang rutin dan doa-doa dari Pak Arif, saya akhirnya sembuh. Saya bersyukur kepada Allah atas kesembuhan yang diberikan-Nya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi membuang air kecil sembarangan. Saya takut kejadian seram yang pernah saya alami akan terulang.


 

Tags:

Share:

0 comments