10 Manfaat Tentang Bid'ah
Berikut adalah 10 keuntungan yang dapat kita pelajari tentang bid'ah:
1. Membantu memperluas pemahaman kita tentang agama.
2. Menunjukkan kreativitas dan inovasi dalam beribadah.
3. Mendorong kita untuk terus belajar dan mencari ilmu.
4. Memberikan kesempatan untuk memperbaiki tata cara ibadah yang sudah tidak relevan.
5. Menyediakan ruang untuk memperkaya tradisi keagamaan.
6. Memungkinkan generasi muda untuk merasa termotivasi dalam beribadah.
7. Membuka peluang untuk menyatukan umat dalam perbedaan.
8. Memberikan inspirasi untuk meningkatkan kualitas spiritualitas kita.
9. Menyediakan kesempatan untuk memperbarui praktik ibadah yang sudah ketinggalan zaman.
10. Membantu menjaga keberagaman dalam beragama.
Bid'ah merupakan penyebab utama perpecahan dan permusuhan di kalangan umat. Allah berfirman bahwa mengikuti jalan-jalan bid'ah akan membuat kita tersesat dari jalan-Nya. Mujahid memahami "jalan-jalan" sebagai berbagai jenis bid'ah dan syubhat. Imam Asy Syatibi menyatakan bahwa semua bukti menunjukkan bahwa perpecahan dan permusuhan muncul ketika bid'ah muncul. Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa bid'ah selalu berdampingan dengan perpecahan, sedangkan sunnah selalu berdampingan dengan persatuan.
Seorang sahabat menyampaikan bahwa ketika orang tua menjadi pikun, anak-anak menjadi tua, dan manusia menganggap bid'ah sebagai sunnah, maka sunnah sebenarnya telah ditinggalkan. Hal ini terjadi ketika ulama meninggal dunia, pembaca Al-Qur'an berkurang, faqih sedikit, pemimpin banyak, orang yang amanah sedikit, dunia lebih diutamakan daripada akhirat, dan ilmu agama diabaikan.
Syaikh al-Albani menjelaskan bahwa meskipun hadits ini dikaitkan dengan Ibnu Mas'ud, namun secara hukum dianggap marfu' (sampai kepada Nabi). Hadits ini merupakan bukti kebenaran kenabian Nabi Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam, karena kondisi yang disebutkan dalam hadits tersebut kini terlihat jelas. Banyaknya bid'ah dan orang yang terpengaruh olehnya membuatnya dianggap sebagai sunnah dan bagian dari agama, sehingga ketika Ahlus Sunnah mengingatkan akan sunnah yang sebenarnya, mereka dianggap meninggalkan sunnah.
SENJATA TERAKHIR
Ketika Said bin Musayyib melihat seseorang shalat setelah fajar dengan lebih dari dua rakaat, dan rukuk serta sujudnya diperpanjang, ia akhirnya melarangnya. Orang itu bertanya, "Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menghukumku karena shalat?" Said bin Musayyib menjawab bahwa tidak, tetapi Allah akan menghukummu karena menyimpang dari As-Sunnah.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengomentari hal ini dalam Irwaul Ghalil 2/236 dengan menyatakan bahwa jawaban Said bin Musayyib adalah yang sangat baik. Ini adalah senjata terakhir terhadap para ahlul bid'ah yang menganggap banyak bid'ah baik dengan alasan dzikir dan shalat, namun menyalahkan Ahlus Sunnah dan mendakwa bahwa mereka menolak dzikir dan shalat. Padahal sebenarnya, Ahlu Sunnah menolak penyelewengan ahlu bid'ah dari tuntunan Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam dzikir, shalat, dan hal lainnya.
BID'AH HASANAH, REALITAS ATAU MITOS?
Dikatakan oleh al-Ghumari dalam bukunya "Itqon Shun'ah fi Tahqiqi Ma'na al-Bid'ah" halaman 5 bahwa para ulama sepakat untuk membagi bid'ah menjadi dua macam; bid'ah terpuji dan tercela. Namun, ini adalah pernyataan yang tidak memiliki dasar yang kuat, karena para ulama salaf selalu menolak bid'ah dan menyatakan bahwa setiap bentuk kebid'ahan adalah sesat. Abdulloh bin Umar pernah berkata, "Setiap bid'ah adalah kesesatan meskipun dianggap sebagai kebaikan oleh manusia."
KELUARGA DENGAN RAGAM PERBEDAAN
Ibnu Hazm dalam Nuqothul Arus menceritakan tentang keluarga yang penuh perbedaan, seperti Hirosy yang memiliki enam anak dengan latar belakang keyakinan yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan betapa uniknya dinamika hubungan dalam keluarga yang dipenuhi dengan perbedaan keyakinan.
BID'AH MENGUBUR SUNNAH
Hassan bin 'Athiyyah mengatakan bahwa setiap kaum yang melakukan bid'ah dalam agama mereka, Allah akan mencabut darinya sunnah yang semisalnya, dan sunnah tersebut tidak akan kembali hingga hari kiamat. Imam adz-Dzahabi juga menyatakan bahwa mengikuti sunnah adalah kehidupan bagi hati, dan jika hati terbiasa dengan bid'ah, maka tidak akan ada ruang lagi untuk sunnah.
HATI YANG RAPUH
Muhammad bin Sirin menolak untuk mendengarkan hadits atau ayat Al-Qur'an dari dua orang lelaki yang terpengaruh oleh hawa nafsu. Sufyan ats-Tsauri juga mengingatkan agar tidak menyebarkan bid'ah kepada orang lain, karena hati manusia yang rapuh rentan terpengaruh oleh syubhat. Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam Nubala' 7/261 juga mengingatkan bahwa mayoritas ulama salaf keras dalam menolak bid'ah karena mereka menyadari bahwa hati manusia mudah terpengaruh oleh syubhat.
Antara inovasi dan kepentingan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memberikan sebuah prinsip penting mengenai kepentingan dan kerugian, beliau menyatakan: "Setiap hal yang pada zamannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seharusnya dilakukan karena kepentingan tetapi tidak dilakukan oleh Nabi, maka jelas itu bukanlah kepentingan." Beliau memberikan contoh mengenai adzan pada hari raya. Meskipun adzan pada dasarnya membawa manfaat, namun karena Nabi tidak melakukannya, maka adzan pada hari raya bukanlah kepentingan. Kita harus yakin bahwa itu salah sebelum mendapatkan larangan khusus atau mengetahui bahwa itu membawa kerugian.
Pesan Sunan Bonang
Dalam dokumen "Het Book van Mbonang", terdapat pesan dari Sunan Bonang kepada umat agar saling tolong-menolong dalam suasana kasih sayang, dan menjauhi kesesatan dan inovasi. Beliau mengatakan: "Wahai saudaraku! Karena kalian semua adalah muslim yang sama, maka hendaklah kita saling mencintai dengan saudara yang mencintai kita. Kita harus mencegah perbuatan sesat dan inovasi."
Membantah Ahli Inovasi
Sebaiknya kita mengikuti nasihat seorang yang berkata: "Wahai penuntut ilmu, lawanlah setiap ahli kebathilan dan setiap orang yang cenderung kepada hawa nafsu. Janganlah kita condong kepada inovasi. Sesungguhnya pelaku inovasi telah tersesat karena gossip yang tidak benar."




0 comments